GoCSRKaltim – Nasib Jembatan Besi Tenggarong kini berada di persimpangan jalan. Setelah hampir satu abad menghubungkan dua sisi Kota Tenggarong di atas Sungai Mahakam, jembatan bersejarah itu kini terancam kehilangan fungsinya sebagai jalur kendaraan, seiring dengan rencana pembangunan infrastruktur baru oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Dalam rapat sosialisasi rencana pembangunan jembatan baru yang digelar Dinas Pekerjaan Umum Kukar pada Senin, 14 April 2025, terungkap bahwa struktur jembatan telah mengalami kerusakan parah akibat korosi dan usia teknis yang telah terlampaui.
“Konstruksinya sudah tidak memungkinkan untuk dilintasi kendaraan. Tapi kami tidak akan menghilangkan nilai sejarahnya. Salah satu opsi yang dikaji adalah menjadikannya jembatan pejalan kaki dengan posisi bergeser ke dekat rumah Datok,” ungkap Kepala Dinas PU Kukar, Wiyono disadur dari Kaltimpost.
Zona Heritage dan Revitalisasi Kawasan Sekitar
Tak hanya soal jembatan, kawasan sekitar juga dirancang sebagai zona pedestrian berwawasan budaya. Rencana ini disebut-sebut akan mengubah wajah kawasan Museum Mulawarman hingga ke depan kantor polisi, menyerupai konsep pedestrian di kawasan heritage Jogjakarta.
“Ini akan menjadi ruang publik yang lebih humanis dan mendukung wisata sejarah Tenggarong. Termasuk konektivitas ke arah Jembatan Sebulu,” tambah Wiyono.
Namun, pembangunan tersebut menuai tanggapan serius dari berbagai pihak, khususnya para pemerhati budaya. Pasalnya, Jembatan Besi saat ini telah berstatus sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, perubahan atau pembongkaran terhadap ODCB harus mendapat kajian dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).
Pentingnya Pelestarian Warisan Teknologi Kolonial
Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV, Lestari, menegaskan bahwa struktur jembatan merupakan peninggalan teknologi industri masa kolonial yang kini semakin langka.
“Struktur rivet dan desainnya mencerminkan teknik konstruksi era kolonial yang sangat jarang ditemui saat ini. Usianya hampir 100 tahun. Ini bukan sekadar jembatan tua—ini adalah memori kolektif warga Tenggarong. Kalau ini hilang, kita kehilangan bagian dari identitas kota,” tegas Lestari.
Sikap Kesultanan dan Polemik Regulasi
Dari sisi budaya lokal, Muhammad Asri, Sekretaris Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, menyatakan pihaknya masih menunggu arahan Sultan. Namun ia menekankan bahwa jembatan tersebut adalah bagian dari sejarah panjang kota.
“Belum bisa dipastikan apakah akan diusulkan sebagai cagar budaya, tapi tentu kami menyayangkan jika jembatan ini benar-benar hilang,” ujarnya.
Ketegangan semakin menguat lantaran proyek pembangunan jembatan baru telah memasuki tahap kontrak. Inspektorat Kukar menyatakan bahwa secara hukum, kontrak tidak bisa dibatalkan sepihak.
“Namun perubahan desain masih memungkinkan jika ada justifikasi kuat, termasuk pemindahan lokasi,” jelas Wahidin dari Inspektorat Kukar.
DPRD Kukar: Seimbang antara Pembangunan dan Pelestarian
Dari legislatif, Wakil Ketua DPRD Kukar, Abdul Rasid, mengambil posisi tengah. Ia menilai kebutuhan infrastruktur baru memang mendesak, namun pelestarian sejarah juga harus menjadi pertimbangan serius.
“Jembatan baru diperlukan untuk mengatasi kemacetan dan mendukung pertumbuhan kota. Tapi, kalau nilai budaya bisa diselamatkan melalui relokasi, itu solusi yang adil,” katanya.
Sementara itu, Heriansyah dari Inspektorat Kukar menyoroti aspek hukum yang masih kabur. Ia mempertanyakan apakah status ODCB melekat pada objek fisik atau juga pada lokasinya.
“Kalau dipindah, harus dipastikan tidak melanggar aturan. Apalagi ini menjelang pemungutan suara ulang (PSU). Jangan sampai konflik jembatan jadi isu politis,” tegasnya.
Simpul Identitas Kota Tenggarong
Kini, Jembatan Besi Tenggarong tak lagi sekadar infrastruktur tua. Ia telah menjelma menjadi simbol pertaruhan antara modernisasi dan pelestarian. Di tengah baja yang mulai rapuh, berdiri kuat ingatan kolektif masyarakat tentang jati diri kota.
Jika pengelolaan kawasan heritage ini berhasil, bukan tak mungkin Jembatan Besi akan menyusul Selokan Mataram di Jogja yang kini diakui sebagai warisan dunia. Sebuah monumen hidup yang tak hanya menghubungkan dua sisi sungai, tapi juga dua sisi jiwa manusia: antara keinginan untuk maju dan kebutuhan untuk mengingat.




Discussion about this post